Jumat, 05 April 2013

MENJADI GURU WIRAUSAHA


Guru merupakan sebuah profesi pengabdian kepada dunia pendidikan dan masyarakat. Guru adalah orang yang pada konsepnya adalah di gugu dan di tiru.
Di era reformasi, profesi guru mendapat perhatian dari pemerintah. Hal ini dikarenakan tercapainya kemajuan suatu negara itu dilandasi oleh baiknya pendidikan di negara tersebut. Hal di contohkan oleh negara jepang dimana pemerintahnya mengalakkan dan mengutamakan kemajuan pendidikan di bandingkan dunia politik. Sehingga muncullah sertifikasi Guru. Tujuan dari sertifkasi guru adalah untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia melalui kesejahteraan guru. Selain itu untuk mengurangi kesenjangan antara guru negeri dan guru swasta. Tapi pada kenyataannya, Hal ini sangat bertolak belakang sertifikasi guru merupakan ajang bagi pejabat instansi pemerintah untuk mengeruk kekayaan yang lebih banyak dari para guru yang akan di sertifikasi maupun yang telah di sertifikasi dengan pungutan liar yang hanya mampu di berikan guru yang punya penghasilan besar dan tidak guru yang berpenghasilan kecil atau mereka yang menginginkan kejujuran dan keterbukaan dalam seleksi Sertifikasi Guru. Banyak dari mereka yang hanya bisa pasrah hanya menjadi guru yang tidak bersertifikasi karena mereka tidak memiliki kekayaan untuk bisa memberikan sejumlah uang kepada pejabat negara dalam hal ini adalah pegawai negeri yang duduk dikursi administrasi pemerintahan terutama di Dinas pendidikan daerah. Sementara perguruan tinggi tempat pembinaan guru hanya bisa menutup mata ketika daftar nama – nama guru yang disertifikasi tidak sesuai yang ada pada mereka. Selain itu guru negeri mendapat tunjangan lebih banyak dari guru swasta karena mereka lebih dahulu di inpasing, sementara guru swasta harus neko-neko dengan pegawai pemerintahan baru bisa di inpasing dengan cepat, kalau tidak harus menunggu sampai berakhirnya sertifikasi guru.
Melihat ketimpangan hal tersebut, apakah kita bisa mengatakan bahwa sertifikasi guru untuk kesejahteraan guru, meningkatkan pendidikan bermutu. Dapat dikatakan sertifikasi guru ini merupakan ajang sebuah bisnis permainan bagi guru yang nakal, dengan sebuah ungkapan “Duit Mencari Duit”. Walau bagaimanapun sertifikasi guru merupakan suatu titik tolak bagi guru didalam meningkatkan profesionalnya sebagai seorang pendidik yang pada masa sekarang ini tugasnya semakin meningkat dan penuh tantangan hal itu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.

Komunikasi Efektif antara Guru dengan Siswa


Mengelola kelas dan memecahkan konflik dalam pembelajaran secara konstruktif membutuhkan keterampilan komunikasi yang baik. Menurut Santrock (2008), terdapat tiga aspek utama dari komunikasi dalam pembelajaran, yaitu keterampilan berbicara, mendengar dan komunikasi nonverbal. Berbicara di hadapan kelas dan di hadapan siswa harus dapat mengkomunikasikan informasi secara jelas. Kejelasan dalam berbicara penting agar pengajaran yang dilakukan oleh guru dan proses belajar yang diikuti siswa dapat berjalan responsive.
Florez (1999) dalam Santrock (2008) mengemukakan bererapa strategi yang dapat  digunakan oleh guru agar dapat berbicara secara jelas pada saat proses pembelajaran berlangsung. Strategi yang dimaksud oleh Florez adalah harus dilakukan dengan menggunakan tata bahasa yang benar, kosa kata yang dapat dipahami dan tepat pada perkembangan anak, melakukan penekanan pada kata-kata kunci atau dengan mengulang penjelasan, berbicara dengan tempo yang tepat, tidak menyampaikan hal-hal yang kabur, dan menggunakan perencanaan dan pemikiran logis sebagai dasar berbicara secara jelas di kelas.
Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam komunikasi verbal adalah gaya penyampaian pesan. Menurut Santrock (2008), terdapat dua gaya penyampaian pesan dalam komunikasi verbal, yaitu gaya pesan “kamu” dan gaya pesan “saya”. Gaya pesan kamu merupakan gaya yang tidak disukai oleh siswa karena pembicara tampak menghakimi orang lain dan menempatkan siswa dalam posisi defensive. Contohnya, “itu benar-benar perkataan bodoh” yang berarti “ucapan kamu benar-benar bodoh”. Ataukah “jauhi diriku” yang berarti “kamu mengganggu hidup saya”. Sedangkan komunikasi pesan “saya” bersifat merefleksikan perasaan pembicara dan lebih baik. Pesan “saya” dapat menggeser percakapan ke arah yang konstruktif dengan mengekspresikan perasaan tanpa menghakimi orang lain atau siswa. Contohnya, “saya marah karena keadaan jadi buruk”, “saya sedih kalau perasaan saya tidak diperhatikan”. Dalam proses pembelajaran, guru selain harus dapat memonitor percakapan sendiri, juga harus dapat memonitor percakapan siswa agar dapat membimbing mereka untuk lebih banyak menggunakan pesan “saya”.
Aspek lain dalam komunikasi verbal yang penting bagi guru adalah cara menangani konflik. Menurut Santrock (2008), cara menangani konflik dapat dilakukan dengan menggunakan empat gaya, yaitu agresif, manipulative, pasif dan asertif. Gaya agresif cenderung galak, menuntut, kasar dan bertindak dengan gaya bermusuhan, serta seringkali tidak peka terhadap hak dan perasaan orang lain. Gaya manipulative, berusaha mendapatkan yang diinginkan dengan membuat orang lain merasa bersalah kepada dirinya, memilih bertingkah sebagai korban agar orang lain melakukan sesuatu untuk dirinya. Gaya pasif, bersifat tidak tegas dan pasrah, membiarkan orang lain “menindas” dirinya tanpa mengekspresikan perasaannya dan tidak memberi tahu orang lain keinginannya. Sedangkan gaya asertif, mengekspresikan perasaannya, meminta apa yang diinginkan, dan berkata tidak untuk hal yang tidak diinginkan. Gaya asertif memperjuangkan hak yang sah, mengekspresikan pandangan secara terbuka, berusaha mengubah perilaku yang salah, dan menolak paksaan untuk dimanipulasi. Menurut Santrock (2008), bersikap asertif adalah pilihan terbaik bagi guru dalam berkomunikasi verbal dengan siswa untuk menyelesaikan konflik.
Dalam berbagai hal, seorang guru dapat mengalami situasi di mana komunikasi dengan siswa menjadi tidak efektif. Gordon (1997) dalam Santrock (2008) mengemukakan lima hal yang dapat menjadi rintangan dalam menjalankan komunikasi verbal yang efektif, yaitu kritik, pelabelan (membri julukan), menasihati, mengatur-atur, dan ceramah moral. Mengevaluasi dengan memberikan kritik kepada siswa dapat mengurangi efektivitas komunikasi, sehingga mengkritik siswa dapat dilakukan dengan meminta siswa evaluasi diri, misalnya penyebab nilai ujiannya yang buruk. Julukan atau pelabelan biasanya menjadi cara untuk merendahkan siswa dengan menggunakan kata-kata hinaan, sehingga guru harus mengontrol perkataannya dan perkataan murid agar dapat saling memahami perasaan satu sama lain. Menasihati yang dimaksud dalam hal ini adalah merendahkan orang lain lalu memberi nasihat solusi, dan mengatur-atur dapat terjadi dengan memerintahkan orang lain melakukan sesuatu yang diinginkan, sehingga dapat menimbulkan resistensi. Sedangkan ceramah moral yang bersifat mengkhotbah bagi siswa dapat meningkatkan rasa bersalah dan kegelisahan pada diri siswa. Dengan demikian, seorang guru lebih baik menggunakan bahasa yang tidak terlalu menyalahkan siswa.
Mengelola kelas secara efektif dapat lebih mudah dilakukan apabila guru dan siswa memiliki keterampilan mendengar yang baik. Seorang pendengar yang baik akan mendapatkan daya tarik bagi orang lain untuk berkomunikasi. Pendengar yang baik akan mendengar secara aktif dan tidak sekedar menyerap informasi secara pasif. Menurut Santrock (2008), mendengar aktif berarti memberi perhatian penuh pada pembicara, memfokuskan diri pada isi intelektual dan emosional dari pesan. Seorang guru dapat menggunakan strategi di bawah ini untuk berinteraksi dengan siswa dan melatihkan keterampilan siswa dalam mendengar aktif:
  • Memberi perhatian cermat pada orang yang sedang berbicara, hal ini akan menunjukkan bahwa anda tertarik pada hal yang sedang dibicarakan, gunakan kontak mata, isyarat condong badan kepada orang yang sedang berbicara.
  • Melakukan parafrasa, menyatakan kembali kalimat yang baru saja dikatakan orang lain dengan menggunakan kalimat sendiri.
  • Mensinstesiskan tema dan pola, meringkas tema utama dan perasaan pembicara yang disampaikan dalam percakapan panjang.
  • Memberi umpan balik atau tanggapan dengan cara yang kompeten, dapat berupa tanggapan verbal atau nonverbal yang membuat pembicara mengerti pencapaian target sasaran pesan.
Selain komunikasi verbal, interaksi di dalam kelas juga dapat terjadi komunikasi nonverbal. Dengan demikian, komunikasi nonverbal penting diperhatikan untuk mencapai komunikasi efektif dalam pembelajaran. Komunikasi nonverbal biasanya dilakukan untuk memback up atau menegaskan pesan verbal, namun seringkali pesan nonverbal lebih efektif dalam mencapai sasaran pesan. Beberapa contoh komunikasi nonverbal dapat dilakukan dengan mengangkat alis, bersedekap untuk melinndungi diri, mengangkat bahu sebagai tanda tak peduli, menepuk dahi sebagai tanda lupa sesuatu, dan lain sebagainya. Banyak pakar komunikasi percaya bahwa sebagian besar komunikasi interpersonal dilakukan secara nonverbal. Bahkan siswa yang duduk di sudut ruangan sambil membaca buku sebenarnya mungkin sedang mengkomunikasikan keinginannya menyendiri secara nonverbal (Santrock, 2008). Ekspresi wajah, komunikasi mata, sentuhan, menghormati ruang pribadi dan melakukan diam merupakan teknik komunikasi nonverbal yang efektif dalam membangun interaksi positif antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa.

MANAJEMEN KELAS


Fungsi Manajemen Kelas

A. Pengertian Manajemen Kelas

Diketahui bahwa setiap organisasi memiliki aktivitas-aktivitas pekerjaan tertentu dalam rangka mencapai tujuan organisasi tersebut dan salah satu aktivitas tersebut adalah manajemen.
Dalam dunia pendidikan manajemen kelas itu dapat diartikan sebagai aktivitas proses belajar mengajar yang memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.[1]
Suatu pandangan yang lebih bersifat umum dari pada pandangan di atas, dinyatakan bahwa manajemen kelas ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber daya manusia (pelayan pendidikan) yang saling berhubungan serta menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan.[2]
Dari uraian di atas yang dimaksud dengan sumber pendidikan di sini ialah mencakup orang-orang, alat-alat media, bahan-bahan, uang dan sarana semuanya itu akan diarahkan dan dikoordinasi agar terpusat dalam rangka menyelesaikan tujuan bersama.
Sementara M. Manulang, mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan manajemen adalah:
Manajemen adalah seni dalam ilmu perencanaan, pengorgansiasian, penyusunan, pergerakan dan pengawasan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.[3]
Dalam pendapat yang sama Terry seperti dikutip Djati S., juga mengatakan bahwa manajemen adalah soal proses tertentu yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan penggunaan setiap ilmu dan seni bersama-sama dan selanjutnya menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan.[4]
Ada sebahagian pendapat yang menyatakan bahwa kata pengelolaan juga sangat identik dengan kata manajemen. Hal tersebut diakibatkan oleh derasnya penambahan kata pungut ke dalam bahasa Indonesia. Olehnya itu penyusun sengaja menguraikannya.
Menurut Drs. Winarno Hamiseno, pengelolaan kelas adalah suatu tindakan yang dimulai dari penyusun data, merencana, mengorganisasikan, melaksanakan sampai dengan pengawasan dan penilaian.[5]
Namun demikian, manajemen kelas ialah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan        menguntungkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan.[6]
Dari beberapa uraian pengertian di atas telah menunjukkan bahwa betapa pentingnya kedudukan manajemen kelas dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar, utamanya untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.

B. Tujuan Manajemen Kelas
Masalah tujuan merupakan masalah yang sangat fundamental dalam setiap proses aktivitas tertentu, khususnya di bidang pendidikan. Sebab, dari tujuan itulah sesuatu itu akan dapat menentukan corak dan ke arah mana organisasi akan dibawa.
Kaitannya dengan hal di atas, dapat dipahami bahwa masalah manajemen adalah masalah yang sangat penting dalam proses aktivitas. Bahkan tidak hanya sekedar penting saja, tetapi masalah manajemen itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sehingga tidak heran jika ditemukan masing-masing corak manajemen yang mempunyai tujuan yang berbeda dalam mencapai hasil yang diinginkan. Kaitannya dengan masalah tujuan di atas penyusun akan mengemukakan sebuah pendapat mengenai pentingnya tujuan, seperti yang dikatakan oleh Allan C. Orriesstein, Daniel V. Levinne, mengatakan dalam bukunya An Introduction to the Foundations of Educations, tentang arti sebuah tujuan dikatakannya:
“Aims are important guides in educations, although they cannot be directly or evaluated; they are statements that cannot a desired and valued competency, a theme or concern that applied to education in general”.[7]
Artinya:
Tujuan adalah petunjuk yang penting dalam pendidikan walaupun mereka secara langsung tidak dapat diamati dan dievaluasi; mereka membuat pernyataan yang mengandung keinginan dan kompetensi, tema atau soal tersebut merupakan pemahaman penerapan di dalam pendidikan secara umum.[8]
Mengenai tujuan manajemen, sebenarnya sangat sulit untuk menentukan penjelasan yang pasti terhadap satu permasalahan tujuan. Oleh karena, hal itu disebabkan banyaknya tujuan yang dikemukakan oleh masing-masing manajemen/organisasi, serta semakin meluasnya makna yang terkandung di dalamnya, kendatipun demikian penyusun mencoba mengemukakan beberapa pendapat tentang tujuan manajemen. Menurut Shrode dan Voich tujuan utama manajemen adalah produktivitas dan kepuasan.[9]
Jika dipahami maksud dari pengertian di atas, bahwa tujuan manajemen itu tidak bersifat tunggal bahkan jamak atau rangkap, seperti dalam peningkatan mutu pendidikan/lulusannya, keuntungan/profit yang tinggi, dan pemenuhan kesempatan kerja, serta pembangunan daerah/nasional maupun tanggung jawab sosial.
Sementara Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan menjelaskan bahwa antara tujuan dan sasaran mempunyai makna yang berbeda. Tujuan maknanya hasil yang umum (generalis), sedangkan sasaran berarti hasil khusus (spesialis). Mengenai tujuan manajemen dikatakannya adalah sesuatu yang ingin dicapai selalu ditetapkan dalam suatu rencana (plan), karena itu hendaknya ditetapkan “jelas, realistis, dan cukup menantang” untuk diperjuangkan berdasarkan pada potensi yang dimiliki.[10]
Lebih jauh lagi Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, menjelaskan tujuan manajemen yang dilihat dari berbagai sudut pandang, di antaranya adalah:
  1. Menurut tipe-tipenya tujuan dibagi atas :
    1. Profit objectives, bertujuan untuk mendapatkan laba bagi pemiliknya
    2. Service objectives, bertujuan untuk memberikan pelayanan yang baik bagi konsumen dengan mempertinggi nilai barang dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen.
    3. Social objectives, bertujuan agar para karyawan secara individual economic social psychological mendapat kepuasan di bidang pekerjaannya dalam perusahaan
  1. Menurut prioritasnya, tujuan dibagi atas:
    1. Tujuan primer
    2. Tujuan sekunder
    3. Tujuan individual
    4. Tujuan sosial.[11]
  2. Menurut jangka waktunya, tujuan dibagi atas :
    1. Tujuan jangka panjang
    2. Tujuan jangka menengah
    3. Tujuan jangka pendek
  3. Menurut sifatnya, tujuan dibagi atas:
    1. Management objectives, tujuan dari segi efektif yang harus ditimbulkan oleh manajer.
    2. Managerial objectives, tujuan yang harus dicapai daya upaya atau kreativitas-kreativitas yang bersifat manajerial
    3. Administrative objectives, tujuan-tujuan yang pencapaiannya memerlukan administrasi.
    4. Economic objectives, tujuan-tujuan yang dimaksud memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan memerlukan efisiensi untuk pencapaiannya.
    5. Social objectives, tujuan suatu tanggung jawab, terutama tanggung jawab moral.
    6. Technical objectives, tujuan berupa detail teknis, detail kerja dan detail karya.[12]
  4. Menurut tingkatannya tujuan dibagi atas:
    1. Overall enterprise objectives, adalah tujuan semesta (generalis) yang harus dicapai oleh badan usaha secara keseluruhan.
    2. Divisional Objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh setiap divisi.
    3. Departmental Objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh masing-masing bagian
    4. Sectional Objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh setiap urusan.
    5. Group objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh setiap kelompok urusan
    6. Individual objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh masing-masing individu.
  1. Menurut bidangnya, tujuan dibagi atas:
    1. Top level objectives, adalah tujuan-tujuan umum, menyeluruh dan menyangkut berbagai bidang sekaligus.
    2. Finance objectives, adalah tujuan-tujuan tentang modal
    3. Productions objectives, adalah tujuan-tujuan produksi.
    4. Marketing objectives, adalah tujuan-tujuan mengenai pemasaran barang dan jasa-jasa.
    5. Office objectives, adalah tujuan-tujuan mengenai ketatausahaan dan administrasinya.
  2. Menurut motifnya, tujuan adalah
    1. Public objectives
    2. Organizational objectives
    3. Personal objectives.[13]
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa tujuan manajemen kelas adalah merupakan hal terjadinya proses manajemen dan aktivitas kerja, tujuan beraneka macam tetapi harus ditetapkan secara jelas, realistis dan cukup menantang berdasarkan analisis data, informasi dan pemilihan dari alternatif-alternatif yang ada.
C. Prinsip-prinsip Manajemen Kelas
Diketahui bahwa manajemen sebagai suatu kegiatan untuk mencapai tujuan menjadi hal yang wajib untuk diketahui oleh mereka yang terlibat di dalam kepanitiaan, organisasi, atau suatu lembaga pendidikan. Prinsip-prinsip manajemen merupakan sebuah ilmu dasar manajemen yang perlu dikuasai oleh pemimpin (pendidik) sebagai landasan untuk kepentingan pelaksanaan manajemen selanjutnya.
Dalam bukunya DR. Nanang Fattah yang berjudul Landasan Manajemen Pendidikan, dijelaskan bahwa pada dasarnya prinsip-prinsip manajemen itu dibagi dalam tiga hal yaitu:
  1. Prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran (MBS)
MBS merupakan teknik manajemen yang membantu memperjelas dan menjabarkan tahapan tujuan organisasi. Dengan MBS dilakukan proses penentuan tujuan bersama antara atasan dan bawahan. Manajer tingkat atas bersama-sama dengan manajer tingkat bawah bersama-sama menentukan tujuan, unit kerja agar serasi dengan tujuan organisasi.
Diketahui bahwa tujuan organisasi adalah segala sesuatu yang harus dicapai organisasi dalam melaksanakan misinya. Sehingga pada setiap tingkat organisasi diperlukan komitmen para manajer pada pencapaian sasaran perseorangan dan sasaran organisasi secara efektif. Namun demikian, MBS mempunyai siklus atau proses, yang dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : 1. Identifikasi tujuan, tanggung jawab dan tugas-tugas, 2. Pengembangan standar prestasi dan 3. Pengukuran dan penilaian prestasi.[14]
MBS merupakan sistem yang mengandung unsur-unsur dan MBS akan efektif jika terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
  1. Komitmen pada program
  2. Penentuan sasaran pada tingkat puncak
  3. Sasaran individu, maksudnya penentuan tujuan setia tingkat untuk membantu para karyawan
  4. Peran serta aktif semua tingkatan manajer
  5. Otonomi dalam pelaksanaan rencana.[15]
  6. Prinsip Manajemen Berdasarkan Orang
Dapat dipahami bahwa manajemen berdasarkan orang merupakan suatu konsep manajemen modern yang mengkaji keterkaitan dimensi perilaku, komponen sistem dalam kaitannya dengan perubahan dan pengembangan organisasi/ lembaga pendidikan. Tuntutan perubahan dan pengembangan yang muncul sebagai akibat tuntutan lingkungan internal dan eksternal pendidikan, membawa implikasi terhadap perubahan perilaku dan kelompok dan wadahnya.
Manajer (pendidik) pada umumnya bekerja pada lingkungan yang selalu berubah. Perubahan lingkungan yang bermacam-macam, menurut organisasi selalu menyesuaikan diri. Salah satu upaya yang paling penting adalah dengan mengembangkan sumber daya manusia. Namun, pengembangan SDM harus diimbangi dengan pengembangan organisasi. Manajer juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur kelembagaan yang memelihara mekanisme keseimbangan antara nilai-nilai kepegawaian dan lingkungan luar. Singkatnya kebudayaan dan lembaga-lembaga menunjukkan dan mempengaruhi cara hidup, dan cara menyelenggarakan sebuah manajemen.[16]
Oleh karena itu, tuntutan akan perubahan merupakan sesuatu yang tidak dapat terelakkan, sebab perubahan perilaku dan perubahan organisasi merupakan bagian esensial dari manajemen inovasi sebagai dampak globalisasi bidang kehidupan, dan ini merupakan salah satu dari prinsip-prinsip manajemen yang harus diketahui di dalam melaksanakan proses aktivitas pendidikan.
  1. Prinsip Manajemen Berdasarkan Informasi
Diketahui perencanaan pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan merupakan kegiatan manajerial yang pada hakekatnya merupakan proses pengambilan keputusan, dan semua kegiatan tersebut membutuhkan suatu informasi.
Informasi yang dibutuhkan oleh manajer disediakan oleh suatu sistem informasi manajemen, yaitu suatu sistem yang menyediakan informasi untuk manajer secara teratur.[17]
Sistem informasi manajemen sebagai sebuah sistem manusia atau mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna untuk mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi. Sistem ini sendiri ada karena berbagai tekanan untuk mengembangkan informasi seirama dengan perkembangan lingkungan. Dengan kata lain, sistem manajemen informasi merupakan keseluruhan jaringan informasi yang ditujukan kepada pembuatan keterangan-keterangan bagi manajer yang berfungsi untuk pengambilan keputusan.
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa prinsip-prinsip manajemen kelas yang dimaksudkan adalah mengarah kepada tercapainya suatu bentuk manajemen dalam wadah organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan tidak melepaskan kaidah-kaidah tertentu, agar organisasi tersebut dapat berjalan di atas prinsip-prinsip manajemen yang ideal.

[1]Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia (Cet. I; Jakarta: Bina Aksara, 1988),            h. 4.
[2]Ibid.
[3]M. Manulang, Dasar-dasar Manajemen Cet. XV; Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996),            h. 15.
[4]Djati Julitriarsa, John Suprihanto, Manajemen Umum Sebuah Pengantar, Edisi I (Cet. III; Yogyakarta: BPFE, 1998), h. 3.
[5]Winarno Hamiseno, Pengelolaan Kelas dan Siswa (Cet. IV; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1986), h. 8.
[6]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar Jakarta: 1996), h. 1.
[7]Allan C. Ornstein, Daniel V. Levinne, An Introduction to the Foundations of Educations, Edisi III (Boston: Hougthon Mifflin Company, 1984), h. 446.
[8]Terjemahan penyusun.
[9]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Cet. V; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 15.
[10]Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 17.
[11]Ibid., h. 18.
[12]Malayu, S.P. Hasibuan, Ibid., h. 19.
[13]Ibid., h. 18-20.
[14]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Cet. V; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 33.
[15]Ibid., h. 34.
[16]George R. Terry, Prinsip-Prinsip Manajemen (Cet. VI; Jakarta: Sinar Grafika, 200), h. 23.
[17]Ibid., h. 45.
[18]Maman  Rachman, Manajemen Kelas (Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar , 1998/1999), h. 20.

Sabtu, 23 Maret 2013

Pedoman Lengkap Pendidikan Karakter


Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 – 2025(UU No. 17 Tahun 2007) antara lain adalah mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”. Salah satu upaya untuk merealisasikannya adalah dengan memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui pendidikan. Upaya ini bertujuan untuk membentuk dan membangun manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan internal dan antar umat beragama, melaksanakan interaksi antarbudaya, mengembangkan modal sosial, menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika pembangunan bangsa.


Di dalam Perpres No. 5 tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional disebutkan bahwa substansi inti program aksi bidang pendidikan di antaranya adalah Penerapan metodologi pendidikan yang tidak lagi berupa pengajaran demi kelulusan ujian (teaching to the test), namun pendidikan menyeluruh yang memperhatikan kemampuan sosial, watak, budi pekerti, kecintaan terhadap budaya-bahasa Indonesia dengan memasukkan pula pendidikan kewirausahaan sehingga sekolah dapat mendorong penciptaan hasil didik yang mampu menjawab kebutuhan sumber daya manusia.
Karakter merupakan perpaduan antara moral, etika, dan akhlak. Moral lebih menitikberatkan pada kualitas perbuatan, tindakan atau perilaku manusia atau apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk, atau benar atau salah. Sebaliknya, etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk, berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu, sedangkan akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri manusia itu telah tertanam keyakinan di mana ke duanya(baik dan buruk) itu ada. Karenanya, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan bai-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Pendidikan kewirausahaan pada intinya adalah menciptakan kreativitas inovasi. Pendidikan kewirausahaan mendidik peserta didik melakukan perubahan dengan proses kerja yang sistemik. Proses kerja yang dimaksud seperti menghubungkan konsep yang relevan (connecting the concepts), melakukan eksplorasi terhadap hasil (exploring the impact), berpikir yang tidak lagi bersifat terarah (convergent thinking) atau pola pemikiran yang berbeda (thinking differently), mengorganisasikan system (organizing the system) dan mengaplikasikan suatu standard dan etika (applying standard and ethic).
Unduh Pedoman Pendidikan Karakter
Buku pedoman pendidikan karakter yang siap diunduh terdiri atas:
  1. KEBIJAKAN NAS PEMB KARAKTER BANGSA 2010_2025.pdf 
  2. KERANGKA ACUAN PENDIDIKAN KARAKTER KEMDIKNAS.pdf 
  3. PEDOMAN PENGEMB PEND BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA.pdf 
  4. PANDUAN PELAKS PENDIDIKAN KARAKTER.pdf 
  5. PANDUAN PENY PELATIHAN PENDIDIKAN KARAKTER.pdf 
  6. PAPARAN PENDIKAR. ppt

PKG Formatif dan PKG Sumatif

Waktu untuk melaksanakan PK Guru dalam satu tahun sekurang-kurangnya 2 kali yaitu pada awal tahun pelajaran (PK Guru Formatif) dan pada akhir tahun pelajaran (PK Guru Sumatif).
PK GURU dilakukan terhadap kompetensi guru sesuai dengan tugas pembelajaran, pembimbingan, atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Khusus untuk kegiatan pembelajaran atau pembimbingan, kompetensi yang dijadikan dasar untuk penilaian kinerja guru adalah kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian, sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007. Keempat kompetensi ini telah dijabarkan menjadi kompetensi guru yang harus dapat ditunjukkan dan diamati dalam berbagai kegiatan,tindakan dan sikap guru dalam melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan.
Sementara itu, untuk tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, penilaian kinerjanya dilakukan berdasarkan kompetensi tertentu sesuai dengan tugas tambahan yang dibebankan tersebut (misalnya; sebagai kepala sekolah/madrasah, wakil kepala sekolah/ madrasah, pengelola perpustakaan, dan sebagainya sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009).

Waktu Pelaksanaan PKG

Waktu pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru meliputi PK Guru Formatif dan PK Guru Sumatif  Dalam satu tahun, sekurang-kurangnya pelaksanaan PK Guru sebanyak dua kali yakni awal tahun pelajaran dan akhir tahun pelajaran.
PK Guru Formatif

PK GURU formatif digunakan untuk menyusun profil kinerja guru dan harus dilaksanakan dalam kurun waktu 6 (enam) minggu di awal tahun ajaran. 
Berdasarkan profil kinerja guru ini dan hasil evaluasi diri yang dilakukan oleh guru secara mandiri, sekolah/madrasah menyusun rencana PKB. Sebagai Bagi guru dengan PK GURU di bawah standar, program PKB diarahkan untuk pencapaian standar kompetensi tersebut. Sementara itu, bagi guru dengan PK GURU yang telah mencapai atau di atas standar, program PKB diorientasikan untuk meningkatkan atau memperbaharui pengetahuan, keterampilan, dan sikap dan perilaku keprofesiannya. 
PK Guru Sumatif
PK GURU sumatif digunakan untuk menetapkan perolahan angka kredit guru pada tahun tersebut.  PK GURU sumatif juga digunakan untuk menganalisis kemajuan yang dicapai guru dalam pelaksanaan PKB,  baik bagi guru yang nilainya masih di bawah standar,  telah mencapai standar, atau melebihi standar kompetensi yang ditetapkan

Sumber : Tunas63 dan http://yasekolah.blogspot.com

Sabtu, 24 November 2012

BERSIKAP TEGAS TERHADAP SISWA NAKAL



Bersikap tegas terhadap siswa Nakal Dalam mengajari anak kita harus tegas dan disiplin. Jangan terlalu keras dan lunak. Kalau mereka dibiarkan begitu saja bertindak seenaknya maka kita sebagai guru akan disepelekan. Untuk itu hal-hal yang harus dilakukan guru adalah :
1.        Jangan pilih kasih terhadap murid kalau salah harus diberi sanksi melihat kesalahan.
2.        Tidak boleh main pukul karena ini akan mendidik anak untuk bertindak keras dan tidak baik untuk perkembangan anak.
3.        Sanksi yang diberikan anak salah harus sesuai dan jangan memberatkan juga mendidik.
4.        Bila nakal atau ramai di kelas harus cepat diberitahukan atau ditenangkan jangan dibiarkan.
5.        Anak yang tidak mengerjakan pr jangan dibiarkan saja harus diberikan sanksi tapi jangan memberatkan.
6.        Guru harus evaluasi diri dan harus jujur dengan siswa.
7.        Jangan memberikan pelajaran yang membuat anak bisa terpengaruh dengan jelek. Harus disesuaikan dengan apa yang dihadapi dan sesuai dengan umurnya.
Semua yang ada di atas itu adalah suatu hal yang perlu diperhatikan guru. Sebenarnya banyak sekali harus diperhatikan. Tetapi semua itu perlu mengerti dan memahami bahwa guru itu harus mendidik siswanya. Jangan dibiarkan siswa itu sendirian. Harus ada perhatian walau itu tidak banyak. Setiap mengajar anak harus diperhatikan apa yang akan disampaikan. Jangan menyampaikan hal-hal yang jelek. Nanti bisa membawa pengaruh jelek terhadap perkembangan siswanya. Beri nasehat yang memberikan motivasi belajarnya. Karena motivasi itu penting untuk menumbuh kembangkan hidupnya dalam mencapai cita-cita. Dalam hal memberikan sanksi harus tegas dan tepat. Jangan sembarangan memberikan sanksi pada anak yang sebenarnya tidak perlu.
Pendidikan itu tidak musti diberikan sanksi bila salah. Kalau memang siswa keterlaluan kekerasan itu juga perlu tetapi jangan sampai menyakiti sampai masuk rumah sakit. Janganlah guru itu menjadi momok dan menakutkan siswa. Harus seperti malaikat selalu menolong mereka dalam memahami pelajaran yang diajarkan. Terutama pelajaran yang sulit. Tak ada yang enak dalam hidup ini kecuali menjadi apa yang diinginkan sejak kecil. Maka keinginan hidup anak jangan dimatikan harus dihidupkan dengan memberikan motivasi diri anak. Maka sebagai guru yang baik itu adalah selalu memberikan :
1.        Contoh atau tauladan sebagai anak yang baik bagaimana.
2.        Jangan selalu mencerca atau mengolok harus memberikan motivasi yang baik.
3.        Pendidikan yang positif dalam hidup anak.
4.        Pelajaran yang sesuai diajarkan guru jangan menyembunyikan.
5.        Nasehat tentang segala hal dimasukkan dalam pelajaran kalau itu perlu.
Jadi guru memang cukup memberikan gairah hidup karena bisa bercanda dengan siswa dengan banyolan dan tidak mengejek. Semua itu memang perlu kita sadari bahwa anak itu perlu kita. Maka kita lindungi dia dan perhatikan dia. Jangan dianak tirikan dan pilih kasih dalam memberikan pelajaran. harus semua sama kalau kita guru mengajar. Hidup guru Indonesia. Di tanganmu dunia ini bisa maju dan berkembang.
Dikirim oleh : Siswanto, SE. Guru MA di Nganjuk Jl.MT. Haryono 3 No.42B Ploso Nganjuk Jawa Timur No.Tilp 0358. 7632793 No.Hp. 081359797869